Krisis Politik AS: Shutdown Pemerintahan Trump Guncang Ekonomi Global
Krisis Politik AS: Shutdown Pemerintahan Trump Guncang Ekonomi Global
Pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) secara resmi memasuki masa shutdown pada Selasa (30/9) tengah malam waktu setempat. Ini merupakan penutupan pertama sejak tahun 2018, yang dipicu oleh kebuntuan politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat dalam menyetujui anggaran negara. Akibatnya, sebagian besar layanan pemerintah federal terpaksa dihentikan.
Akar perselisihan terletak pada perbedaan pandangan tajam mengenai pendanaan program layanan kesehatan Affordable Care Act (Obamacare). Partai Demokrat menolak rancangan anggaran sementara (interim budget) yang diajukan kubu Republik karena dinilai memotong subsidi kesehatan yang vital bagi jutaan warga berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump dan Partai Republik bersikeras melakukan efisiensi dengan memangkas dana subsidi tersebut. Trump dalam pernyataannya seperti dikutip CNBC International menegaskan, “Mereka ingin imigran ilegal datang dan mendapatkan layanan kesehatan besar-besaran dengan mengorbankan warga kita.”
Dampak shutdown ini langsung terasa secara domestik maupun global. Di dalam negeri AS, ratusan ribu pegawai federal terpaksa dirumahkan tanpa bayaran, sementara layanan publik seperti penelitian kesehatan, administrasi perpajakan, dan beberapa layanan nasional lainnya mengalami penundaan.
Gelombang kecemasan juga melanda pasar keuangan global. Investor bereaksi terhadap meningkatnya ketidakpastian dengan memperlihatkan volatilitas di pasar saham dan nilai tukar dolar AS. Analis memperingatkan potensi efek domino ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Shutdown di AS berpotensi memicu pelarian modal asing dari pasar Asia dan meningkatkan tekanan pada nilai tukar mata uang regional, termasuk Rupiah,” jelas seorang analis pasar di Jakarta.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda kompromi dari kedua partai yang mendominasi Kongres. Jika kebuntuan politik berlanjut, dikhawatirkan akan semakin menggerus kepercayaan investor dan kredibilitas fiskal AS di mata dunia.
Kejadian ini menyoroti kembali polarisasi politik dalam negeri AS di bawah pemerintahan Trump dan membuktikan bahwa ketidakstabilan di negara adidaya tersebut masih dapat mengirim guncangan berarti ke perekonomian global. Dunia sekali lagi dipaksa untuk menanggung risiko dari dinamika politik Washington.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar