YAHYA SINWAR: Otak Tenang di Balik Badai Yang Mengguncang Israel

OrbPaper

20 December 2025

YAHYA SINWAR: OTAK TENANG DI BALIK BADAI YANG MENGGUNCANG ISRAEL Internasional

YAHYA SINWAR: OTAK TENANG DI BALIK BADAI YANG MENGGUNCANG ISRAEL

Nama Yahya Sinwar kembali menjadi sorotan global sebagai sosok yang diidentifikasi sebagai salah satu arsitek utama Operasi "Banjir Al-Aqsa". Serangan besar yang mengguncang keseimbangan konflik Hamas-Israel pada 7 Oktober 2023 itu menjadi penanda babak baru di Timur Tengah.

Di balik figur yang dikenal disiplin, perhitung, dan jarang tampil publik itu, terpendam peran strategis sangat besar. Bertahun-tahun sebelum operasi diluncurkan, Sinwar disebut-sebut telah membangun sistem militer dan keamanan terintegrasi di Jalur Gaza. Sistem ini mencakup struktur organisasi rapi, kemandirian produksi senjata, serta jaringan komunikasi bawah tanah yang sulit ditembus.

Bagi banyak pejuang Brigade Izzuddin Al-Qassam, Sinwar bukan sekadar pemimpin politik. Ia dipandang sebagai "insinyur kesabaran panjang" sosok yang menolak konfrontasi kecil dan memilih menunggu momen tepat untuk melancarkan serangan besar, setelah persiapan matang selama bertahun-tahun.

Bagi Sinwar, perjuangan Palestina diyakini tak akan selesai dengan kompromi politik atau gencatan senjata jangka pendek. Ia meyakini satu-satunya cara mengembalikan perhatian dunia adalah melalui langkah strategis yang mengguncang status quo. Operasi "Banjir Al-Aqsa" dianggap sebagai wujud nyata filosofi itu: serangan terkoordinasi dengan ketepatan tinggi, dilakukan secara simultan via darat, udara, dan laut, yang berhasil mengejutkan militer Israel dan komunitas internasional.

Serangan itu tidak hanya mengubah peta konflik, tetapi juga mengungkap kelemahan sistem intelijen dan keamanan Israel yang selama ini dianggap tak tertembus.

Di mata banyak warga Gaza, Yahya Sinwar adalah simbol keteguhan dan perlawanan pemimpin yang tidak hanya memerintah dari balik meja, tetapi juga pernah merasakan jeruji penjara, penyiksaan, dan pengasingan. Sebaliknya, di Tel Aviv, ia dicap sebagai "otak paling berbahaya di Timur Tengah", sosok yang dianggap mampu membingungkan institusi keamanan Israel, mematahkan keunggulan teknologi, dan menggeser paradigma pertahanan mereka.

Lahir di Khan Younis, Gaza selatan, Sinwar tumbuh di tengah pendudukan dan kekerasan yang membentuk karakternya. Ia mendirikan unit keamanan internal Hamas pada 1980-an dan pernah mendekam di penjara Israel selama lebih dari dua dekade sebelum dibebaskan dalam pertukaran tahanan tahun 2011.

Setelah kembali ke Gaza, ia memperkuat koordinasi antara sayap politik dan militer Hamas, memastikan setiap langkah di medan tempur sejalan dengan tujuan politik jangka panjang. Kini, setelah dikabarkan gugur dalam serangan udara Israel, nama Yahya Sinwar telah melampaui batas militer semata, menjelma menjadi simbol perlawanan dan kesabaran panjang rakyat Palestina.

Warisan strateginya terus hidup di tengah reruntuhan Gaza: keyakinan bahwa perjuangan tidak hanya tentang senjata, melainkan tentang keteguhan visi dan keberanian untuk mengubah arah sejarah.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar

Yesterday